jump to navigation

INTERESTING CONVERSATION September 5, 2008

Posted by nughull in Renungan.
add a comment

An atheist professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God, The Almighty.

He asks one of his new Muslim students to stand and…..

Professor:
You are a Muslim, aren’t you, son?

Student :
 
Yes, sir.

Prof:
So you believe in God?

Student :
Absolutely, sir.

Prof:
Is God good?

Student :
Sure.

Prof:
Is God all-powerful?

Student :
Yes.

Prof:
My brother died of cancer even though he prayed to God to heal him.
      Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t.
      How is this God good then? Hmm?

(Student is silent.)

Prof:
You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?

Student :
Yes.

Prof:
Is Satan good?

Student :
No.

Prof:
Where does Satan come from?

Student :
From…God…

Prof:
That’s right. Tell me son, is there evil in this world?

Student :
Yes.

Prof:
Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?

Student :
Yes.

Prof:
So who created evil?

(Student does not answer.)

Prof:
Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness?
      All these terrible things exist in the world, don’t they?

Student :
Yes, sir.

Prof:
So, who created them?

(Student has no answer.)

Prof:
Science says you have 5 senses you use to identify and observe the
      world around you. Tell me, son…Have you ever seen God?

Student:  
No, sir.

Prof:
Tell us if you have ever heard your God?

Student :
No , sir.

Prof:
Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God?
      Have you ever had any sensory perception of God for that matter?

Student :
No, sir. I’m afraid I haven’t.

Prof:
Yet you still believe in Him?

Student :
Yes.

Prof:
According to empirical, testable, demonstrable protocol, science says
      your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?

Student :
Nothing. I only have my faith.

Prof:
Yes. Faith. And that is the problem science has.

Student :
Professor, is there such a thing as heat?

Prof:
Yes.

Student :
And is there such a thing as cold?

Prof:
Yes.

Student :
No sir. There isn’t.

(The lecture theatre becomes very quiet with this turn of events.)

Student :
Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat,
          white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold.
          We can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go
          any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we
          use to describe the absence of heat. We cannot measure cold.
          Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.

(There is pin-drop silence in the lecture theatre.)

Student :
What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?

Prof:
Yes. What is night if there isn’t darkness?

Student :
You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something.
          You can have low light, normal light, bright light, flashing light….But if you
          have no light constantly, you have nothing and it’s called darkness, isn’t it?
          In reality, darkness isn’t. If it were you would be able to make darkness
          darker, wouldn’t you?

Prof:
So what is the point you are making, young man?

Student :
Sir, my point is your philosophical premise is flawed.

Prof:
Flawed? Can you explain how?

Student :
Sir, you are working on the premise of duality.
          You argue there is life and then there is death, a good God and a bad God.
          You are viewing the concept of God as something finite,
          something we can measure.
          Sir, science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism,
          but has never seen, much less fully understood either one. To view death as
          the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a
          substantive thing. Death is not the opposite of life: just the absence of it.
          Now tell me, Professor. Do you teach your students that they evolved from a
          monkey?

Prof:
If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.

Student :
 
Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?

(The Professor shakes his head with a smile, beginning to realize where the
argument is going.)

Student :
Since no one has ever observed the process of evolution at work and
          cannot even prove that this process is an on-going endeavour, are you not
          teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher?

(The class is in uproar.)

Student :
Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?

(The class breaks out into laughter.)

Student :
Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it,
          touched or smelt it?…..No one appears to have done so.
          So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable
          protocol, science says that you have no brain, sir.
          With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?

(The room is silent. The professor stares at the student, his face
unfathomable.)

Prof:
I guess you’ll have to take them on faith, son.

Student :
That is it sir.. The link between man & god is FAITH.
          That is all that keeps things moving & alive.

Adakah cinta memerlukan sebab September 5, 2008

Posted by nughull in Renungan.
add a comment

 

Dalam satu kisah percintaan yang menarik. Sepasang suami isteri berjalan
di tepi sebuah tasik yang indah. Kemudian mereka berhenti di sebuah
bangku yang disediakan di tepi tasik. Kemudian si isteri bertanya kepada si
suami. Ini dialog mereka

Isteri : Mengapa abang menyukai saya? Mengapa abang cintakan saya?

Suami : Abang tidak boleh menerangkan sebabnya, namun begitu abang memang
          menyayangi dan mencintai Sayang!

Isteri : Abang tak boleh terangkan sebabnya? Bagaimana abang boleh katakan
        abang sayang dan cintakan saya sedangkan abang tidak boleh menerangkannya.

Suami : Betul! Abang tak tahu sebabnya tetapi abang boleh buktikan bahawa
          abang memang cintakan Sayang!

Isteri : Tak boleh beri bukti! Tidak! Saya hendak abang terangkan kepada
         saya sebabnya. Kawan-kawan saya yang lain yang mempunyai suami dan teman
         lelaki, semuanya tahu menerangkan mengapa mereka mencintai. Dalam bentuk
         puisi dan syair lagi. Namun begitu abang tidak boleh terangkan sebabnya

Si suami menarik nafas panjang dan dia berkata
“Baiklah! Abang mencintai Sayang sebab sayang cantik, mempunyai suara yang
merdu, penyayang dan mengingati abang selalu. Abang juga sukakan senyuman manis
dan setiap tapak Sayang melangkah, di situlah cinta Abang bersama Sayang!”

Si isteri tersenyum dan berpuas hati dengan penerangan suaminya tadi.
Namun begitu selang beberapa hari si isteri mengalami kemalangan dan koma.

Si suami amat bersedih dan menulis sepucuk surat kepada isterinya yang
disayangi. Surat itu diletakkan di sebelah katil isterinya di hospital.
Surat tersebut berbunyi begini :

“Sayang!Jika disebabkan suara aku mencintai mu… sekarang bolehkah
engkau bersuara? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu. Jika disebabkan
kasih sayang dan ingatan aku mencintai mu…sekarang bolehkah engkau
menunjukkannya? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu.Jika
disebabkan senyuman aku mencintai mu… sekarang bolehkah engkau
tersenyum? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu.Jika disebabkan
setiap langkah aku mencintai mu…. sekarang bolehkah engkau melangkah?
Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu. Jika cinta memerlukan
sebabnya, seperti sekarang. Aku tidak mempunyai sebab mencintai mu lagi.
Adakah cinta memerlukan sebab? Tidak! Aku masih mencintai mu dulu, kini,
selamanya dan cinta tidak perlu ada sebab. Kadangkala perkara tercantik
dan terbaik di dunia tidak boleh dilihat, dipegang. Namun begitu… ia
boleh dirasai dalam hati.”

Mungkin..AkuBukanPilihanHatimu… September 5, 2008

Posted by nughull in Semua untukmu...
add a comment

Jika memang diriku bukanlah menjadi pilihan hatimu
Mungkin sudah takdirnya kau dan aku takkan mungkin bersatu

Harus slalu kau tahu
Ku mencintamu disepanjang waktuku
Harus slalu kau tahu
Semua abadi untuk slamanya

Karena ku yakin cinta dalam hatiku
Hanya milikmu sampai akhir hidupku
Karena ku yakin disetiap hembus nafasku
Hanya dirimu satu yang slalu ku rindu

Jika memang diriku bukanlah menjadi pilihan hatimu…

MUNGKINkah… August 29, 2008

Posted by nughull in Renungan.
add a comment

Mungkin kah….

 

Mungkin Tuhan sengaja mahu kita berjumpa dengan orang yang salah
sebelum menemui insan yang betul supaya apabila kita akhirnya menemui
insan yang betul, kita akan tahu bagaimana untuk bersyukur dengan nikmat
pemberian dan hikmah di sebalik pemberian tersebut.

Apabila salah satu pintu kebahagiaan tertutup, yang lain akan terbuka
tapi lazimnya kita akan memandang pintu yang telah tertutup itu terlalu
lama hinggakan kita tidak nampak pintu yang telahpun dibukakan untuk kita.

Kawan yang paling baik ialah seseorang yang anda boleh duduk di dalam
buaian dan berbuai bersama tanpa berkata apa-apa pun dan kemudian berjalan
pulang dengan perasaan bahawa itulah perbualan yang paling hebat yang
pernah dialami.Memang benar yang kita tidak akan tahu apa yang telah
kita punyai sehinggalah kita kehilangannya dan juga benar bahawa kita
tidak tahu apa yang kita rindukan sehinggalah ‘ia’ datang.

Memberi seseorang seluruh cinta anda bukanlah satu kepastian yang
mereka akan menyintai anda kembali! Jangan harapkan cinta sebagai
balasan. Nantikan sahaja ia untuk mekar di dalam hati mereka tapi
sekiranya ia tidak, pastikanlah ia terus mekar di dalam hati anda.


Ia cuma mengambil masa seminit untuk jatuh hati pada seseorang, satu jam untuk
menyukai seseorang, satu hari untuk menyintai seseorang tetapi ia
mengambil masa sepanjang hidup untuk melupakan seseorang.

Jangan pandang kepada kecantikan kerana boleh jadi ianya palsu.
Jangan kejar kemewahan kerana ianya akan susut. Carilah seseorang yang
membuatkan anda tersenyum kerana ia cuma memerlukan sekuntum senyuman
untuk mencerahkan hari yang suram. Carilah yang membuatkan hati anda
tersenyum. Akan tiba satu ketika di dalam kehidupan apabila anda
teramatkan rindukan seseorang sehingga anda ingin menggapainya ! dari mimpi
anda dan memeluknya dengan sebenar.Mimpilah apa yang ingin anda impikan,
pergilah ke mana-mana yang ingin anda tujui dan jadilah apa yang anda
inginkan kerana anda hanya memiliki satu kehidupan dan satu peluang untuk
melakukan semua perkara yang ingin anda lakukan.

Semoga anda memiliki kebahagiaan yang cukup untuk membuatkan diri
anda menarik, percubaan yang cukup untuk membuatkan anda kuat, kesedihan
yang cukup untuk memastikan anda adalah seorang insan dan harapan yang
cukup untuk membuatkan anda bahagia. Selalu bayangkan diri anda di dalam
kasut seseorang.Jika anda rasa ianya menyakitkan anda, fikirlah ia
mungkin menyakitkan orang lain juga. Kebahagiaan seseorang manusia tidak
semestinya memiliki segala yang terbaik. Mereka hanya membuat
yang terbaik dalam hampir apa saja yang datang di dalam perjalanan hidup
mereka.

Kebahagiaan terletak kepada mereka yang menangis, mereka yang terluka,
mereka yang telah mencari dan mereka yang telah mencuba. Hanya mereka
yang boleh menghargai kepentingan manusia yang telah menyentuh hidup
mereka. Cinta bermula dengan senyuman, mekar dengan ciuman dan berakhir
dengan tangisan.

Masa depan yang cerah sentiasa berteraskan kehidupan yang lalu yang
telah dilupakan. Anda tidak boleh meneruskan kehidupan dengan sempurna
sehingga anda melupakan kegagalan dan kekecewaan masa silam.

Semasa anda dilahirkan, anda menangis dan orang di sekeliling anda
tersenyum. Teruskanlah hidup anda supaya apabila anda mati nanti,
andalah yang akan tersenyum dan orang sekeliling anda pula yang akan
menangis.

HaDiRnYa CiNtA ItU… August 29, 2008

Posted by nughull in Cerpen.
add a comment

“Kenapa Nurain tak berterus-terang pada saya?”

 

Tersentak aku dari pembacaan. Aku menoleh ke sisi mencari sapaan suara yang menegurku. Haikal? Terasa melayang tubuhku saat memandang raut wajah lelaki itu. Belum pernah-pernah kami bersua berduaan seperti ini.

 

Selalunya, pertemuan kami hanya berselisih lalu di rumah Umi. Kini, tiada olakan angin siang atau ribut malam melanda. Mimpi apa pula agaknya dia menemui aku? Dengan seribu tanda tanya menerjah fikiran, aku mengangkat kening seumpama tidak memahami tujuan Haikal hadir ke perpustakaan UM tengah hari ini.

 

Spontan, sebuah diari biru dihulurkan kepadaku. Astaghfirullah.. Istighfar aku dalam keharuan menghujani kalbu perasaan. Alpa melayani tingkah diri. Bagaimana diari itu boleh tercicir di rumah Umi? Setahu aku, selepas pengajian Al-Quran petang semalam, segala buku-buku telahpun selamat dimasukkan dalam beg kuliah.

 

Sungguh, diari itu banyak mencoretkan serba satu kisah perjalanan hidupku. Disebalik itu, nama Haikal turut terukir di segenap helaian kertas putih tanpa diketahui pemilik tuannya. Muhammad Haikal Aiman bin Muhammad Hairil. Nama indah seindah nur iman bercahaya diwajahnya. Kehadiran Haikal bagaikan satu suratan dalam kebetulan. Itupun setelah aku mengenali ibunya, Umi Kalsum. Insan yang banyak membimbing aku ke jalan Allah. Jalan Islam yang sememangnya terbentang luas di ruangan mata namun kabus pandangan naluri hati telah mengaburi segala-galanya.

 

“Maafkan saya sebab membaca catatan awak tanpa meminta izin!” tenang raut muka Haikal mengungkapkan kata maaf.

 

Aku termati kata-kata lantas mengambil diari biru yang dihulurkan.

“Saya pergi dulu, Haikal. Ada kuliah sekarang!” Sejurus kemudian, aku bingkas meninggalkan Haikal di situ dengan sepatah ucapan salam.

 

Sukar untuk aku berdepan dengan Haikal walau sedetik. Apatah lagi untuk berbicara soal hati dengan lelaki ini. Tidak menduga terpapar akhirnya luahan rasa di mata Haikal yang sebelum ini terselindung dibalik lipatan kamus semalam. Aku pasrah! —

 

“Ain boleh aku masuk?” jenguk Intan di ambang pintu bilik. Aku tersenyum mengangguk perlahan. Bingkas aku bangun melipat sejadah dan kain telekung. Sejurus itu, aku beralih duduk dibirai katil menghampiri Intan.

“Ada tak Haikal pulangkan diari kau?”

“Kenapa?”soalku balik. Keliru dengan pertanyaan yang tidak diduga. Dari raut wajah Intan, dia kelihatan seumpama serba salah.

“Maafkan, aku Ain. Sebenarnya aku yang berikan diari kau pada Haikal!”

 

Meruap mukaku mendengar penjelasan Intan. Tergamam aku seketika untuk bersuara lanjut.

“Ain, kau tak seharusnya memendam perasaan sejauh begini. Kenapa tak berterus-terang yang kau menaruh hati pada Haikal? Mati-mati aku tak sedar hal ini kalau tak selak diari kau kemarin.” Sungguh telah sekian lama aku mengintai cinta Haikal dalam diam. Namun, apakan kudratku untuk memulakan jalinan dua hati sedangkan aku dan Haikal di pagari sempadan yang sekilas tidak kelihatan. Seperti mana rintihan pungguk merindui cahaya bulan, seumpama itu kasih Haikal menjenguk ibarat angin lalu. Tatkala cahaya mentari mula menerangi bumi, maka biasan cinta semalaman gugur bersama seimbas memori hampa. Aku keliru. Terlalu dalam jurang dunia yang memisahkan kami. Biar seribu tahun hadir melahirkan sinar harapan baru, namun igauan garis-garis hitam telah menyisih sepi diri ini untuk mendekati Haikal.

 

Terlayar kembali kesilapan masa lalu yang meragut istilah kesucian seorang gadis timur. Entah bagaimana, aku telah terjerat dalam sepi fatamorgana yang memaut sunyi noda cinta. Cinta insani yang berlandaskan perangkap nafsu semata tanpa setitis limpahan kasih keredhaan Allah. Aku alpa mengekori langkah diri yang cuma mengapai bayangan mimpi kala siang hari.

 

Ternyata, Azrul yang aku kenal bukanlah insan luhur budi pekerti. Tidak menduga dia sanggup mempertaruhkan aku sebagai galang penguasa nafsu lelaki miliknya. Aku terlalu percaya pada janji-janji kasih seorang kekasih lantas menyahut seruan Azrul dan menjerumuskan diri ini pada kesesatan dunia. Mengadaikan maruah diri demi harga murah lelongan sebuah kesetiaan.Ya Allah.. Ya Ghafur! Tidak sanggup rasa mengimbau sejarah lalu pada hamparan memori duka.

“Sudahlah Intan. Aku tak pernah mengharap apa-apa selain belajar agama di rumah Umi. Lagipun, aku sayangkan Haikal seperti saudara Islamku. Bukankah umat Islam itu bersaudara?”Aku sekadar berhujah kosong. Menyimpan rahsia hati yang terselindung. Sungguh anak bongsu Umi itu telah mencuri hati ini dalam diam. Tidak terzahir ungkapan kasihku kepadanya sedangkan aku perlu akui tujuan asal yang hanya berniat tumpang belajar agama di rumah Umi. Tidak mahu berlebih-lebihan akan perihal cinta yang fana. Tapi, entah mengapa, semakin aku tekad melupakan wajah lelaki itu, semakin dia hadir menemani mimpi-mimpi di malam waktu. Ya Allah.. apa lagi yang aku cari sebenarnya!

 

“Aku akui kebenaran ukhwah persaudaraan dalam Islam.Tapi, kau tak boleh berdalih soal fitrah hidup manusia.Alangkah lebih baik seandainya perasaan kau terhadap Haikal disalurkan pada jalan yang diredhai Allah. Dirikan pernikahan dengannya, Nurain!”saran Intan mematikan lamunan aku sejenak.

 

“Mana mungkin.Aku tak layak meraih cinta dia..” tegasku perlahan meletakkan kepastian yang pasti. Terlalu besar pahit maung yang melingkari kekerdilan diri. Tiada lagi tadahan impian menanti hari esok. Biarlah detik-detik berlalu terus menyisir pergi bersama bayangan Azrul yang hanya tinggal serpihan kenangan. Retak seribu perasaan aku saat Azrul melangkah ke UK empat tahun lalu kerana menyambung perniagaan keluarga dan membiarkan diri ini terkapai-kapai keseorangan.

Sungguh dengan nama Allah.. Ya Basith! Maha Meluas kasih dan sayangNya. Masih ada jalan yang dititipkan buat landasan HambaNya ini. Mujur, Intan selaku teman sekuliah sanggup berlapang dada mendengar rintihan hati ini. Tanpa berfikir lama, aku akur pada nasihat seorang sahabat yang selama ini aku endahkan.

 

Sejurus minggu berikutnya, Intan membawa aku menemui Umi Kalsum. Ibu saudaranya yang berkerjaya sebagai guru agama di sebuah sekolah menengah Shah Alam. Dari situlah aku mula menghayati pendekatan Islam. Belajar kelas Fardu Ain yang diselang-selikan dengan pengajian Al-Quran. Kalam Allah yang sudah lama aku tinggalkan pembacaan ayat yang terungkap bersama himpunan petunjuk bahtera duniawi. Pedoman meniti hari-hari mendatang sebagai mukmin sejati. Sesekali kelibat Haikal menyinggahi ruang kediaman ketika balik dari cuti pengajiannya di UIAM. Tanpa diduga, pertemuan sekian lama telah memaut perasaan ini pada ketertiban peribadi akhlak seorang lelaki.

 

“Kenapa nak fikir sangat perkara yang lepas sedangkan kau boleh mulakan hidup baru, Ain..” nasihat Intan seolah dapat membaca dilema yang mengusuti ruang fikiran.

“Soalnya, aku sudah banyak menyimpang jauh. Tak sanggup rasanya mempertaruhkan insan semulia Haikal menanggung dosa-dosa aku sebelum ini. Dia lelaki yang beriman dan sewajarnya berdamping dengan perempuan yang baik-baik. Wanita solehah yang mampu melebarkan jalan buat Haikal ke syurga..” terluah akhirnya kata-kata aku menitipkan seribu impian untuk Haikal. Impian yang aku sentiasa sisipkan bersama tulus doa kehadrat Illahi. Berharap Haikal bertemu jodoh pada insan yang istimewa di sisi Allah. Seistimewa Siti Khadijah binti Khuwalid yang menjadi pelengkap kehidupan baginda Rasulullah s.a.w.

 

“Tak baik menghukum diri sendiri Ain.Bukankah, setiap taubat yang diterima Allah, bermakna diri kau bersih sesempurna bayi yang baru dilahirkan?”Tidak putus-putus Intan memberikan aku sinar harapan baru melewati usia dewasaku kini.Sungguh aku akui, dia sememangnya teman menangisku yang abadi.

“Kau tak mengerti Intan. Hakikatnya, keimanan aku masih rapuh lagi. Bagaimana aku berupaya bimbing zuriat Haikal kelak?” tanya aku seolah masih ragu-ragu kemampuan diri.

 

“Insya Allah, perkara yang baik sentiasa dipermudahkan Allah. Sedangkan Nabi Muhammad tidak pernah menyisihkan umatnya, begitulah harapan Umi yang sentiasa menanti kehadiran kau sebagai menantu..”

“Harapan Umi?”

 

——-

 

Aku memerhatikan rimbun pepohon kemboja yang meliar tumbuh di kawasan padang. Damai puputan bayu petang menenggelamkan aku bersama khayalan cinta sedekad lalu. Bayangan Azrul kian menghilang dimata dan terus lenyap namanya dihati ini buat selama-lamanya.

 

“Jauhnya mengelamun!”Aku tersentak.Mendongak memandang Haikal yang tersenyum simpul.

“Eh,abang rupanya.Ingatkan siapa tadi!”Serentak itu, Haikal duduk bersebelahan sambil memaut erat pinggangku. Sepenuh kasih, aku menyandarkan kepala dibahunya sambil merenung jauh redupan awan yang memayungi biasan mentari petang. Dari kejauhan hamparan hijau Taman Reaksi Bukit Kiara, kulihat Hardina dan Hafiz saling berkejaran riang bermain.Kedua-dua permata hati aku dan Haikal yang kian membesar meniti alam persekolahan tadika.

 

“Terima kasih abang..” lembut kata-kata aku membisik sayup di telinga Haikal.

“Untuk apa?”Haikal menoleh dengan kerutan di muka. Aku tersenyum hambar mengenangkan tulus ikhlas kasih lelaki ini terhadap diriku. Sanggup menerima cinta insan yang pernah tergadai harga diri.

 

“Sebab tak pernah sia-siakan Ain walaupun Ain sudah..” Aku tiba-tiba teresak menitiskan air mata keharuan.

“Syh.. tak baik mengungkit Ain. Abang sudah lama melupakan kisah silam Ain bermula dari saat perkahwinan kita dulu. Abang tak pernah kisah siapa Ain sebelum ini. Paling penting, Ain yang abang kenal adalah sebaik-baik wanita muslimah.” pujuk Haikal menyingsing pergi segala resah yang bertaut jiwa.

 

“Tapi Ain..” Belum sempat aku ulangi kalimah ‘kesucian diri‘, pintas Haikal meletakkan jari telunjuknya dibibirku.

“Ain, tahu tak, sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah orang yang berbuat kesilapan, lantas dia segera bertaubat dan berazam tidak mengulangi dosanya lagi. Anggaplah apa yang berlaku dulu adalah satu ujian daripada Allah. Ujian bagi mendekatkan diri sesesorang hamba kepada PenciptaNya.” Aku termangu mencari kesungguhan kata-kata Haikal.

 

Benar apa yang dituturkan suami aku. Aku kini sudah banyak berubah. Andainya, dugaan hebat itu tidak hadir mengetuk pintu sejarah lalu, sudah pasti tika ini aku masih lagi dibelenggu kejahilan sosial remaja yang bertentangan dari landasan Islam sebenar.

 

“Ain sayangkan abang dunia dan akhirat!” utusku penuh bermakna. Haikal tersenyum melemparkan pandangan ke arahku sambil memangku Hardina yang kelihatan ceria bermanja. Hafiz yang menyusul selangkah kemudian, berlari-lari anak menghampiri aku. Spontan, aku merangkul mesra anak lelaki tunggal kami. Desiran angin senja melambai pergi seharian hari ini saat kami beriringan menuju ke kereta. Tinggallah derita, pergilah duka. Ikrarku memanjatkan rasa syukur pada kebahagiaan yang mekar bersemi kini!

Sesuatu Yg Hilang August 29, 2008

Posted by nughull in Cerpen.
add a comment

KALAU perangai tu senonoh tak apa jugak.. ini serupa dengan pelesit kampung

dusun. Pelesit kampung pun lagi baik dari dia.

Agaknya kalau hidup tu tak menyusahkan orang tak boleh agaknya!

 

“Dia datang.. jeng jeng jeng! Dengan lenggang lenggoknya.. dia datang..

jeng jeng jeng!”

Suara anak-anak katak diiringi dentingan gitar buruk di simpang ke rumah nenek sudah kedengaran.

“Piah.. okey tak rambut aku?” soal Mastura sambil membetulkan rambutnya

yang

sengaja dilepaskan. “Okey..” jawabku slow.

“Piah.. baju aku? Okey tak? Sepit aku senget tak?” soalnya lagi.

“Eh.. engkau nie nak mengorat Tom Cruise ke? Kalau setakat budak tak reti

bahasa tu tak payah beriya!” ujarku boring. Mastura Cuma tersenyum. Lipstik

merah jambunya menyerlahkan lagi kulitnya yang putih kuning. Hmm.. ni satu

lagi yang sengaja nak menaikkan darah aku. Apa la yang digilakan sangat

budak bawak tong buruk tu? Dah la kerja malas.. melepak siang malam jadi

penunggu simpang. Simpang nak ke bandar ini dah jadi rumahtangga dia orang.

Apa taknya.. pagi petang siang malam.. tak ada muka lain! Melepak, melepak

dan melepak! “Assalamualaikum Piah.. baru balik dating yek?” Aku Cuma

menjeling mendengar usikan itu.

“Sombong betul cucu Tok Su ni! Tak kenal sedara agaknya!”

“Entah.. mentang-mentanglah dapat masuk U.. sombong..” sampuk Usin Bangat.

“Piah.. cunlah kawan kau nie.. tengok macam ni la bagus.. senyum mesra..

hi,

apa khabar?” Mastura tersengih macam dapat hadiah bila pemuda berambut

lurus

separas dagu itu menegurnya. Amboi.. gatalnya.. dengan pantas aku mengheret

lengan Mastura. Malas aku nak layan sekumpulan kambing gurun yang sedang

menyembek sana sini tu. Namun sepantas itu juga perjalananku disekat. Zul

Cuma senyum, menyerlahkan lesung pipit di pipi kirinya.

“Piah..”

“Apa?” soalku meninggi. Menyampahnya nak tengok muka tenuk sekor ni..

“Jangan sombong sangat.. berdosa, tau? Kau pun bukan lawa sangat..” Seraya

itu aku ditertawakan sepuas hati oleh dia dan rakan-rakannya. Aku Cuma

mampu

menjeling, menjeling dan menjeling. Celaka punya budak! Dengan pantas aku

menyeret Mastura pergi.

“Kau ni Piah.. kenapa la buat orang macam tu? Tak baik tau..”

“Ahh.. aku tau la kau suka kat Zul tu.. ” sindirku sambil berjalan laju.

Lalang-lalang di kiri kanan jalan meliuk lintuk dipuput angin petang.

Bumbung rumah tua kelihatan dari jauh.

Kelihatan nenek sedang mengutip terung telunjuk di

tepi dapur yang lebat

berbuah.

“Nek..” kami tersenyum menyapa nenek.

“Mak kamu baru aje telefon.. takut kamu tak sampai lagi..” Mastura senyum.

“Mak tu memang macam tu nek.. kalau Mas balik ke Melaka pun macam tu..

belum

bergerak lagi bas dah telefon atuk kat sana..” jawab Mastura sambil

tergelak

kecil. “Hmm.. nanti kecil hati pulak atuk Mas kat Melaka sana Mas asyik

balik sini aje..” ujar nenek.

“Ala tak apa nek.. lagipun Mas suka balik sini.. ada nenek, ada atuk.. ada

Piah..” Eleh.. aku menjeling. Yang sebenarnya motif utama dia semakin

kerap

ke sini kerana si budak tak cukup akal tu! Pantang cuti mesti dia akan

balik

ke sini.

“Piah.. Piah… kenapa kau tak beritahu aku kat kampung nie ada pak we

hensem?”

“eh… kan ke kau kata kampung nie mundur.. tak moden macam kampung atuk

kau

kat Melaka sana?” sindirku. Dulu kalau nak tengok dia jejak ke sini bukan

main liat. Tak ada Astro la.. tak ada NTV7 la.. line handset tak dapatlah..

banyak nyamuklah..

Mastura tersengih sambil mengeluarkan dua helai pakaiannya dari dalam beg.

“Kau kenal tak budak tu Piah?” soalnya sambil meniarap di atas katil kayu.

“Yang mana satu? Yang hitam macam orang minyak ke.. yang tinggi macam

hantu

galah tu?” soalku acuh tak acuh.

“Ala.. yang paling hensem tu.. yang ikat rambut tu tadi… ala… “

“Yang ada lesung pipit tu? Yang mata dia coklat tu?”

“Err… kan yang muka panjang-panjang sikit tu..”

“yang ada mata dua.. hidung satu..”

“Piah!” Mastura memetik jari di hadapanku. Aku tersedar.

“Ada apa?” soalku.

“Cepat siap.. kita nak pergi kenduri. Nenek suruh siap..” Amboi.. kena

pergi

kenduri pulak.. Dengan malas aku memanjat tangga naik ke atas.

 

KALAU tidak kerana pujukan Mastura dan syarahan percuma dari nenek tadi

mati

hidup balik aku tak akan pergi ke rumahnya!

Sengaja aku memaksa diri senyum dan memaniskan muka bila bersua dengan

ibunya. Dan dia mengambil kesempatan tersengih macam kerang busuk di

sebelah

Mak Lijah sewaktu mereka bersalaman.

“Lama ke cuti Piah?” soal Mak Lijah.

“Lama jugak mak cik.. dalam sebulan ada kot…”

jawabku

sopan.

“Baru habis periksa..” sampuk nenek.

“Yang ini cucu Mak Su jugak ke?” soal Mak Lijah bila melihat Mastura yang

sedang bermain mata dengan anak bujangnya.

“Hmm.. anaknya si Hasan.. salam dengan mak cik,” Mastura dengan pantas

menghulur tangan. Emmm… meluatnya aku.. tanpa menanti aku segera

melarikan diri ke dapur. Tolong apa-apa yang patut. Lagipun malas aku nak

menatap wajah orang yang amat-amat aku tak suka. Biarlah si Mastura yang

melayan mamat tak betul tu. Lagipun bukan Mastura seorang yang sukakan dia.

Dulu Maizatul anak penghulu kampung sebelah sampai putus tunang gara-gara

terlalu sukakan Zul. Kalau aku nak bawa balik kawan-kawan kena pikir dua

kali dulu. Dulu sekali musim buah tahun lepas aku bawa balik room-mates

seramai 3 orang.. tiga-tiga gila bayang bila terserempak dengan hantu tu

waktu kami mengutip durian di kebun. Sekarang ni sepupu aku pulak minat

bagai nak gila kat dia. Kalau setakat minat tu tak apalah.. ni menyusahkan

aku. Setiap kali balik mengirim salam berdozen-dozen.. tak sampaikan nanti

berdosa pulak.. tapi aku lebih rela pulang balik salam dia orang tu

daripada aku bercakap dengan si Zul tu. Dah tu aku pulak kena interview

macam-macam.

Kadang-kadang aku terfikir sendiri. Apa istimewa sangat Zul tu? Nak kata

hensem.. ya Allah.. selekehh.. dengan Tshirt gambar hantu depan belakang..

jeans koyak rabak.. rambut panjang.. belum tengok kapcai dia lagi.. dah tak

macam rupa motosikal.. penuh dengan steaker tah apa-apa.. bunyi motornya

tu

mengalahkan ekzos kapal terbang bunyinya.. satu kampung boleh terjaga kalau

dia bawak motor malam-malam. Tapi satu saja sifat baik yang aku nampak..

dia

menjaga mak dan ayahnya.

Dalam erti kata lain di samping menghabiskan beras mak bapak dia seorang

saja yang sanggup tinggal di kampung ini walaupun ada degree dari UTM

lagi..

hemm.. jangan main-main.. kutu lepak pon ada degree sekarang ni! “Piah!”

Opocot mak kau! Zul tertawa melekek. Baru aku sedar rupa-rupanya tinggal

kami berdua saja di luar rumah. Mana pergi mak cik lagi dua orang yang

sama-sama membasuh pinggan kotor tadi? Dah lesap? Ceh.. mengelat! Zul

menghulur pinggan yang masih kotor kepadaku. Eeii.. menyampahnya aku..

dengan penuh rasa tak ikhlas aku menyambut. Dia pula segera duduk

mencangkung di depanku untuk membilas pinggan yang sudah disabun.

“Sudi jugak datang rumah saya ye..”

“Excuse me.. bukan rumah awak, rumah mak dan ayah awak..”

“Rumah saya la jugak..” Zul menggeleng kepala.

“Kenapa awak tak pernah senyum bila nampak saya?”

“Saja.. suka!”

“Saya banyak dosa dengan awak ke?”

“Boleh tak jangan ganggu saya? Bosanlah.. sejak awak duduk kat kampung nie

dah dua tahun dah.. asyik muka awak jer.. siang malam pagi petang.. “

ujarku akhirnya. Zul tersenyum.

“Intan apa khabar sekarang ni?” soalnya membuatkan aku menjeling tajam.

“Kenapa awak nak tanya pasal dia lagi? Kan dah tercapai maksud hati awak

tu?”

“Saya tak buat apa-apa pun.. dah dia yang minat kat saya nak buat

macammana?”

“Eh tupai, kalau awak Cuma nak main-mainkan dia buat

apa awak balas cinta dia?” Tanpa lengah aku bangun dan

meninggalkannya seorang di situ. Menyampah betul. Sejak dia kembali semula

ke kampung selepas tamat pengajian hidupku betul-betul sengsara. Kalau

boleh

lari aku memang ingin lari tapi ke mana lagi tempat hendak kutuju? Rumah

Pak Long? Belum lagi panas punggung sudah berdentum dentam dengar sindiran

dari Mak Long. Ke banglo besar Pak Usu di Kajang? Serupa duduk dalam gua.

Pak Usu dan Mak Usu sama saja sibuknya. Sekejap ke Paris, sekejap ke

Tokyo..

nak balik melawat nenek dan atuk setahun sekali pun payah. Seingatku kali

terakhir Pak Usu balik 10 bulan yang lalu. Itu pun semalaman saja. Kalau

nenek dan atuk rindu sangat pada cucunya Amirul itu mereka saja yang ke

sana. Atau paling tidak driver pak usu akan hantar Amirul ke kampung. Ke

rumah Mastura di Ampang? Tak sempat meneguk air dah ditanya pasal tanah dan

rumah peninggalan arwah ayah. Sejak arwah ayah dan mak pergi 10 tahun yang

lalu memang Pak Ngah selalu meninjau-ninjau jumlah aset yang arwah

tinggalkan. Entahlah.. tak faham juga dengan perangai Pak Ngah yang

sentiasa

tak cukup-cukup harta. Lalu, kemana lagi harus kutuju kalau bukan rumah

atuk dan nenek? Sudah ditakdirkan aku menjadi yatim piatu sejak kecil.

Mujurlah Pak Usu banyak membantu dari segi kewangan. Mak usu juga selalu

mengambil berat sehingga aku lebih popular dengan panggilan ‘lombong emas’

dikalangan sepupu-sepupu. “Piah.. kau tak dengar ke apa aku cakap ni?” Aku

mengeluh bosan.

“Mas.. kau nie tak reti mengantuk ke.. dah pukul

berapa ni.. aku nak tidur tau..” keluhku sambil

memeluk bantal. Dari tadi sampai

la sekarang sudah pukul 2.00 pagi asyik paksa aku

mendengar luahan hatinya pada si Zul tu. Sejak balik

dari kenduri tadi

macam orang dilamun cinta. Sikit-sikit Zul..

sikit-sikit nama malaun tu..

“Kau ni kenapa? Kau jealous ye aku suka kat Zul tu?”

“What?” Aku bingkas bangun dan merenung Mastura. “Habis tu kenapa bila aku

cakap-cakap pasal Zul kau angin semacam?”

“Sebab aku tak nak kau jadi mangsa dia!” Mastura sengih.

“Mangsa?”

“Sudahlah Mas.. yang penting sekarang nie kau lupakanlah hasrat nak bersama

dia.. sebelum kau kecewa..” aku bangun dan membawa bantalku keluar dari

bilik. Biarlah dia tidur sorang-sorang.. mujur-mujur Zul boleh menemaninya

di dalam mimpi! Aku menolak daun pintu bilik sebelah. Entah kenapa

saat-saat

begini mata enggan pula terkatup. Semuanya gara-gara si Zul.

Seingatku Zul dan keluarganya berpindah ke kampung ini 12 tahun yang lalu,

selepas bapanya bersara. Aku tak kenal sangat dengan keluarganya.. Cuma

nenek kata kalau ada kena mengena pun ayahnya dua pupu dengan atuk. Zul

Cuma

sempat bersekolah di kampung sampai tingkatan tiga sahaja.

Selepas itu dia ke MRSM Beseri, Perlis. Zul taklah

sehandsome mana

pada pandanganku. Tapi mungkin kerana dia memiliki

sepasang senyuman menawan dan renungan menggoda bak

kata

Mastura tadi, membuatkan ramai gadis

tergila-gilakannya, termasuk kawan baikku Intan. Aku tak tahu apa salah

aku.

Setahuku aku Cuma memperkenalkan Intan dengan Zul, itupun setelah tiga hari

tiga malam Intan membodek aku mengirim surat untuk Zul.

Tak sangka pula Intan tak bertepuk sebelah tangan. Legalah aku.. tak payah

jadi orang tengah lama-lama. aku ingat setelah tiga tahun berkawan akan

kekal bahagia.. tetapi tiba-tiba saja Zul memutuskan hubungan. Dan yang

peliknya sejak itu Intan menjauhkan diri dari aku. Putusnya cinta dia dan

Zul turut memusnahkan persahabatan kami. Paling sadis Intan ditendang

keluar

kerana tak cukup kredit tahun pertama di USM. Sejak hari itu hinggalah

sekarang aku gagal mengesan Intan. Dan semenjak itu aku cukup benci melihat

Zul. Menyesal aku jadi orang tengah. Hari ini.. sepupu aku ni pulak

terhegeh-hegeh nak bercinta dengan si malaun tu. Cukuplah sekali aku putus

sahabat kerana seorang lelaki, jangan pula selepas ini aku putus saudara

kerana si Zul tu.

PANAS terik yang membakar tubuh membuatkan kulitku terasa garing seperti

tepung goreng pisang digoreng minyak penuh.

Peluh dah meleleh seluruh tubuh.. menyesal pulak pakai T Shirt hitam. Motor

buruk atuk yang hidup segan mati tak mahu kupandu berhati-hati. Bimbang

berulang peristiwa beberapa tahun dahulu, seminggu aku di hospital

gara-gara

tertekan gear, melambung macam superman dalam ladang getah. Kalau ikutkan

hati malu betul nak bawak motor atuk yang layak masuk muzium ni. Kalau

bunyinya okey tak apa jugak.. ni bunyi dia serupa bunyi kambing batuk.

Putputputprenggg.. putputputprengggg.. muka aku ni pasti naik tebal seinci

enam depa bila masuk ke jalan besar. Pasti kenderaan-kenderaan lain memberi

penghormatan bila motor antik atuk ini kubawa menuju ke kedai. Geram juga

rasa hati bila Mastura tertawa terkekeh sebaik saja aku menyetart motor.

Pandai dia.. mentang-mentanglah tak tahu bawak motor.. senang-senang

suggest nama aku kat nenek suruh pergi kedai. Nenek pun satu.. macam tak

paham perasaan aku saat atuk menghulurkan kunci motornya tadi.

Padahal yang nak makan buah melaka tu si Mastura, bukan aku. Tapi biasalah,

bila barang dapur habis aje aku jugak jadi mangsa.. bila cucu-cucu dia yang

lain balik nak mencekik apa-apa.. aku jugak.. takkan nak suruh atuk pergi

pulak.. kalau sejam pegi sejam balik sah! Bukan tak tahu atuk.. berjiwa

penyayang. Semut pun tak sampai hati nak langgar. Tak taulah sama ada dia

sayangkan motornya atau semut tu.. tapi yang pasti memang tension kalau

suruh atuk ke kedai. Bukan jauh mana pun.. kalau jalan kaki tak sampai 15

minit.

Udara panas membahang tanpa sebarang sumber penyejuk seperti angin

seumpamanya membuatkan mukaku merah terbakar. Motor atuk yang kejap-kejap

batuk semput mentensionkan aku. Yang pasti aku akan lebih tension bila

sudah

kelihatan dua tiga ekor jerangkung dan pocong sedang bermain gitar di

hujung

simpang sana. Isshhh..

kenapalah kalau dalam

sehari tak bertemu tak sah agaknya!

“Sepiah.. malam ini ku takkan pulang.. tak usah kau mencari aku.. dengan

motor atukmu.. kahkahkahkah..” Shit! Aku menjeling geram. Sengaja aku

memulas minyak kuat-kuat supaya boleh memecut laju tapi aku ni memang

mangsa

dugaan. Tiba-tiba saja motor atuk semput dan mati, betul-betul di hadapan

budak-budak itu.

“Apa ketawa-ketawa?” soalku bengang campur malu.

Ishhh… bodoh punya motor! Aku cuba menyetartnya lagi

tapi Cuma

batuk-batuk kecil saja kedengaran. Zul dan

kawan-kawannya sudah berguling-guling ketawa. Celaka punya budak! Tanpa

lengah aku menongkat motor di situ.

“Piah..! Piah ooii.. takkan nak jalan kaki kot.. motor ni apa hal?” teriak

Zul dengan tawa yang masih bersisa. Peduli apa aku! Tapi tiba-tiba aku

terasa semacam. Eh.. kenapa tiba-tiba kaki sebelah kiri kosong jer.. aku

paling ke belakang. Cis!! Selipar jepun putus pulak!!! Zul

tersenyum-senyum

dan menghampiriku dengan motor brutalnya.

“Awak nak pegi mana? Biar saya hantar,” dia menawarkan khidmat.

“Hantar saya ke lubang kubur, boleh?” soalku geram. “Piah.. kalau nak mati

pun janganlah cakap kuat-kuat.. suara awak tak sedap..”

“Suka hati saya lah nak cakap kuat ke slow ke.. ” Aku menjawab dan berjalan

pantas. Zul masih mengekoriku dengan motornya.

Alamak.. sabar ajelah.. dah la panas terik. Selipar jepun plak putus..

memang black Sunday betul! “Piah.. cik Sepiah Abdullah! Janganlah macam

tu.. buruk awak marah..” Dia ni memang nak kena! “Piah.. Piah..! awak

ingat kita ni suka ke awak buat macam ni?”

“Huyyoo.. marahnya.. macam harimau.. jap lagi keluarlah belang-belang kat

badan..”

“Boleh tolong diam tak?” soalku sambil berhenti di tepi jalan untuk

melintas.

“Apasal dalam banyak-banyak nama, nama Sepiah hinggap kat awak?”

“Sibuk kenapa?” aku menjeling tajam dan berlari anak meninggalkannya di

situ. Sakit jiwa raga. Sibuk jer..

kalau tak menyakat

orang tak sah.

Aku masuk ke dalam kedai runcit. Pehh.. lega.. nasib baik ada kipas angin.

Kak Melah tokei kedai sedang sibuk berdengkur.

Kak Melah ni.. kalau la aku ni jahat aku curi je barang-barang dia ni.

“Akak!” Kak Melah terjaga. Aku tersengih.

“Tidur ye.. nanti Piah curi barang-barang ni..” usikku lantas ke belakang.

“Curi je la Piah.. tuhan nampak..” balas kak Melah sambil menguap panjang.

Boleh tahan buruknya muka kak Melah bila tak tutup mulut. Mau dua tiga ekor

lalat tersalah haluan. “Akak tolong bungkuskan kacang hijau, kasi sekilo,”

pintaku dan mencapai tepung pulut yang nenek pesan. Selesai membayar aku

kembali berjalan kaki. Nasib baik cuaca sudah redup tapi sakit hati aku tak

kian surut bila jejaka bertshirt tanpa lengan dan memakai jeans sekerat

lutut itu masih setia menanti di seberang jalan.

“Awak ni tak ada kerja lain ke? Kalau sehari tak ganggu hidup saya boleh

tak?” pintaku dan terus berjalan. Kaki ayam pun kaki ayamlah!

“Piah.. mari la saya hantar awak balik, tak terbakar ke kaki awak tak ada

selipar sebelah tu?” soalnya. “Biar terbakar kat kaki tak apa.. jangan

terbakar kat hati..”

“Piah.. kenapa ni? Awak marahkan saya lagi ke pasal Intan tu?”

“Jangan nak babitkan saya dengan Intan lagi.. saya tak ada kena mengena

dengan awak mahupun Intan,” Zul Cuma tersenyum serupa seperti seekor

cipanzi

sedang tersenyum ayu. “Awak ni tak faham bahasa melayu ke? Kalau atuk dan

nenek saya nampak awak mengekor saya ni apa kata dia org. Dah la bunyi

motor

tu macam gendang cina..”

“Ehh Piah.. jangan hina motor saya nie.. dah berpuluh-puluh awek menenggek

atas motor saya ni..” “Perempuan tak ada mata je suka kat awak, sudahlah!

Jangan ikut saya lagi!” Aku keresahan bila bumbung

rumah sudah

kelihatan. Zul senyum lagi.

“Piah.. kirim salam kat sepupu kau tu ye?”

“Cakap sendiri! Tak kuasa nak layan!”

 

 

“PIAH!! Piah tolonglah! Kali ni je..” Mastura

merayu-rayu. Aku dah agak dah!

“Mas.. aku kalau hal lain aku boleh tolong.. tapi bab menipu nie sorry..”

“Piahhhh!!! Tolonglah!!! Aku janji kejap jer,” dia menarik2 tanganku. Eii..

lemasnya! Mastura dah merengek-rengek macam budak kecil.

“Aku janji dengan dia pukul 8.00 ni kat simpang.. tolonglah!!” pintanya

sambil resah menjeling jam yang sudah menunjukkan pukul 7.50 malam.

“Mas.. kau nak keluar tengok wayang dengan mamat tu keluarlah.. tapi

tolonglah jangan melibatkan aku..”

pintaku sambil

melipat telekung.

“Piah tolonglah.. kali ni je.. pleassee…” aku

mengeluh

lemah.

“Kejap je! Dan kali ini je.. lain kali kau tanggung sendiri, okey?” Mastura

melompat girang.

“Thanks Piah.. sayang Piah!” Dia memelukku erat.

LAWAK Yassin dalam Lagi-lagi Senario langsung tak menarik minat. Kalau tak

kerana si Mastura tak kuasa aku nak keluar malam-malam macam ni. Si Mastura

bestlah, dah jumpa jejaka idaman semua lupa. Sudahlah aku yang terpaksa

mereka cerita menipu atuk dan nenek, aku pulak rupanya kena tipu. Dia kata

si malaun tu yang ajak keluar, tapi dalam perjalanan tadi dia kata

sebenarnya dia yang ajak Zul keluar. Hampeh betul!! Itu yang membuatkan

aku

tak berselera nak ketawa tengok Senario. Dah tu biasalah.. si Zul bila

keluar ke bandar.. (aku pun tak tahu apa yang special sangat dia ni) macam

artis orang tengok dia. Tadi sampai ada sorang awek tu terlanggar tiang

kerana asyik sangat melihat si Zul. Pelik aku..

“Piah.. makanlah.. kenapa tak makan?” tegur Zul melihat aku Cuma merenung

saja nasi ayam goreng di hadapan mata.

“Iyelah.. makanlah Piah..”

“Aku risau ni… dah pukul 11.00 bila nak balik ni?” soalku.

“Ala kau nie.. tu pun risau.. releks la..” Mastura menjeling.

“Kalau kau tak nak balik tak pe.. aku balik dulu!” Aku bingkas bangun.

Lantaklah.. bengang juga aku dengan si Mastura. Tadi janji akan balik

sebelum pukul 10.30.. ini dah pukul berapa?

“Piah! Piah!” Mastura menghadang perjalananku. “Kasi chance la kat aku

Piah..” ujarnya sambil mengerling ke arah Zul yang sedang membayar harga

makanan.

“Kita janji tadi macammana? Sorry la Mas, lepas ni kau jangan haraplah aku

nak tolong kau lagi..”

“Ala Piah..” Mas menarik muka masam.

“Okey.. jom kita balik..”

“Zul kata tadi nak bawak kita orang tengok live band..”

“Ehh.. dah pukul berapa dah ni.. nanti atuk dan nenek awak risau kat

rumah..” Aiikk… alim la pulak mamat ni.. Zul sudahpun menuju ke Satria

warna hijau tua. Ceh.. nak dating punya pasal sanggup sewa kereta…

“Err.. aku nak pergi toilet kejap..” Mastura berlari-lari anak meninggalkan

kami berdua. Suasana agak sepi. Yang kedengaran cumalah lagu Sephia

nyanyian

Sheila On 7 di Radio Era.

“Piah.. cantik awak malam ni..” puji Zul tiba-tiba. “Terima kasih.. baru

perasan ke?” soalku selamba membuatkan Zul tertawa.

“Tapi Piah.. lebih cantik kalau awak tutup rambut awak tu. Pahala pun

dapat..” Cis!! Aku hanya melihat dia tersenyum.

“Awak dah ada boyfriend Piah?”

“Kenapa awak nak tahu?”

“Saja.. ambil berat.. “

“Belum lagi, terima kasih kerana bertanya,” “Belajar dulu Piah.. jangan

bercinta lagi.. awak muda lagi.. baru 23 tahun.. banyak lagi benda yang

awak

belum rasa..” Wah.. ajaibnya.. seorang kutu lepak sedang memberi ceramah

motivasi kat aku!

“Awak sibuk nasihat saya.. awak tu.. kenapa awak biar aje degree awak tu

berhabuk kat rumah..” aku menyindir balik.

“Awak jangan ingat saya melepak saya tak ada duit… nanti awak terkejut

kalau saya meminang awak nanti..” Zul tertawa kecil.

Eleh, macamlah aku nak terima. Makan pakai pun mak bapak tanggung ada hati

nak pinang orang.. “Okey.. jom!” Mas tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam

perut kereta. Seketika Satria itu memecut laju menghala ke kampung…

“BUDAK tak ada maruah!” Pangg!!! Aku terasa mataku berpinar. Mujur ada

nenek

sempat menyambut tubuhku yang melayang.

Mastura sudah pucat lesi ketakutan di sudut ruang tamu.

“Hasan! Kalau iye pun kenapa kau pukul cucu aku ni?” soal nenek geram. Aku

terasa airmataku sudah luruh membasahi pipi.

Seumur hidup tak pernah lagi kena jentik walaupun sekali.

“Mak asyik nak menangkan si Piah ni.. sekarang ni takkan mak dan ayah tak

sedar lagi.. ” Pak Ngah mengepal penumbuknya.

“Piah.. kenapa Piah buat macam ni? Kenapa Piah tipu nenek?” Aku pandang

Mastura yang diam tak berkata-kata.

“Ini semua salah cucu kesayangan mak ni.. walaupun Mas ni tinggal di KL

tapi

dia tak pernah keluar malam. Jauh sekali menipu saya..” Apa? Aku memandang

wajah nenek. “Nek.. sebenarnya Piah tak salah nek..” ujarku membela diri.

“Mas! Cakap kat abah.. siapa yang ajar Mas keluar balik lewat malam ni? Tau

tak kelam kabut abah balik dari Ampang tadi.. ?”

Mastura memandangku lama.

“Cakap!”

“Piah bah..” jawabnya perlahan. Apa?

“Piah yang pujuk Mas pergi tengok wayang di bandar.. dengan kawan dia..”

Aku rasa macam nak koyak-koyak aje mulut si Mastura. Sampai hati kau

khianati aku..

“Mak dengar tak tu? Dia beritahu mak nak pergi kenduri rumah kawan dia..

rupa-rupanya menjual maruah kat bandar tu, ” “Pak Ngah! Sampai hati pak

ngah

kata Piah macam tu..” “Dasar anak pungut!”

“Hasan.. baik kau keluar dari rumah aku ni..” atuk yang dari tadi membisu

mula bersuara.

“Aku tahu cucu yang aku jaga dari kecil lagi. Aku yang mengasuhnya. Aku

tahu

dia tak bersalah..” atuk merenung Pak Ngah tajam.

“Ayah dan mak sama saja.. Mas! Kemas kain baju kau, kita balik malam ni

juga!” Pak Ngah meluru turun dari rumah. Mak Ngah serta anak-anaknya yang

lain ikut turun. Mas menyelinap masuk ke bilik dan keluar tergesa-gesa bila

hon kereta ayahnya berbunyi berkali-kali. Nenek mengusap kepalaku perlahan.

 

“Sudah tu.. pergi masuk tidur..”

 

ANGIN tengah hari bertiup agak kuat sehingga putik-putik mangga telur yang

lebat di ranting berguguran ke halaman. Aku menongkat dagu melihat segenap

penjuru rumah tua itu. Bunga-bunga kertas berwarna warni memeriahkan rumah

yang kian usang itu. Tiba-tiba saja hatiku sayu. Bagaimana kalau atuk dan

nenek sudah tiada di dunia ini nanti? Pada siapa aku hendak mengadu?

Tragedi

malam tadi masih terbayang-bayang di ruang mata. Sampai hati Mastura

memperalatkan aku. Sanggup dia berbohong semata-mata untuk melepaskan diri

sendiri. Sepatutnya yang kena penampar semalam dia, bukan aku! Kalau dia

yang tak merayu-rayu macam orang gila talak semalam mati hidup balik aku

tak

akan keluar. Semuanya kerana Zul.. ya.. kerana dia! Kalau kereta dia tak

rosak sampai pukul 4.00 pagi semalam kami balik ke rumah tentu semua ini

tak

terjadi. Semua ini salah Zul! Sampai hati Pak Ngah tuduh aku macam tu.. dia

tak tahu ke hukumnya menganiaya anak yatim? Harap kopiah jer siang malam

atas kepala. Tergamak dia kata aku anak pungut? Tapi.. betul ke aku nie

bukan darah daging mereka? Kalau diperhatikan ada logiknya. Kenapa semua

sepupu-sepupu aku tak sama macam aku. Kadang-kadang aku terfikir juga,

betul

ke aku ni anak mak dan ayah? Kalau ikutkan dulu seingat aku mak dan ayah

berkulit hitam manis. Macammana pulak aku boleh jadi putih kemerahan? Gen

sebelah siapa? Phin! Phin! Aku tersedar dari lamunan. Eh.. siapa pulak

yang

datang. Dari jauh aku melihat seorang pemuda mengikat key di kepala sedang

menunggang sebuah motor buruk. Ehh.. biar betul.. “Hi Piah..” Zul senyum

sebaik saja berhenti di hadapanku. Hmm.. aku ingat dia dah arwahkan motor

buruk atuk aku ni.. tapi.. bunyi dia dah tak macam kambing batuk lagi..

dah

macho sikit bunyinya. Hari tu masa atuk tanya ke mana motornya aku katakan

saja motor itu aku sedekahkan pada penunggu simpang.

“Saya dah betulkan motor atuk awak ni.. lepas ni awak nak bawak 160 pun tak

per.. ” Zul senyum lagi, mungkin bengang dengan sikap acuh tak acuh aku.

“Piah.. kenapa ni?” soalnya dan duduk di sisiku. “Pergilah awak!”

tengkingku kuat. Tak semena-mena air mata tiba-tiba saja turun laju.

“Eh Piah.. kenapa ni? Piah.. ” Zul terkejut.

“Piah.. janganlah menangis.. kenapa ni?” pujuknya lembut.

“Kalau awak tak menyusahkan saya tak boleh ke? Awak dah banyak susahkan

saya

tau.. sebab awaklah saya ni selalu jadi mangsa..” Aku mengesat air mata

yang

semakin galak turun. Biarlah dia nak cakap apa pun cakaplah. “Piah, saya